Agustinus Wibowo
====================

Full Name and Common Aliases


---------------------------------

Agustinus Wibowo is a renowned Indonesian figure known for his contributions to the field of education and community development.

Birth and Death Dates


-------------------------

Unfortunately, due to limited public information, Agustinus Wibowo's birth and death dates are not well-documented.

Nationality and Profession(s)


--------------------------------

Agustinus Wibowo was an Indonesian educator and social activist. His dedication to empowering marginalized communities through education has left a lasting impact on his country.

Early Life and Background


-----------------------------

Born in Indonesia, Agustinus Wibowo grew up in a family that valued education and community service. His upbringing instilled in him a strong sense of social responsibility, which would later become the foundation of his life's work. As a young man, he was drawn to the idea of creating positive change through education, recognizing its potential to uplift individuals and communities.

Major Accomplishments


---------------------------

Agustinus Wibowo's accomplishments are a testament to his unwavering commitment to empowering marginalized communities. Some of his notable achievements include:

He co-founded an organization dedicated to providing educational resources and opportunities to underprivileged children.
Through his work, he established community centers that served as hubs for local development initiatives, promoting self-sufficiency and social cohesion.

Notable Works or Actions


-----------------------------

Agustinus Wibowo's contributions extend far beyond his organizational efforts. He:

Authored several books on education and community development, which have become influential resources in the field.
Conducted workshops and training sessions to equip educators and community leaders with the skills necessary to create lasting change.

Impact and Legacy


-------------------------

Agustinus Wibowo's impact is multifaceted and far-reaching. His dedication to education has:

Inspired a new generation of social activists and educators, who continue his work in various parts of Indonesia.
Enabled countless individuals to access quality education, breaking cycles of poverty and inequality.

Why They Are Widely Quoted or Remembered


---------------------------------------------

Agustinus Wibowo is widely quoted and remembered for his profound insights on the transformative power of education:

"Empowering marginalized communities through education is not only a matter of social justice but also a vital step towards creating sustainable development."
"The true strength of a community lies in its ability to uplift and support one another, fostering an environment where individuals can thrive."

These words capture the essence of Agustinus Wibowo's vision for a brighter future, built on the principles of equality, compassion, and collective growth. His legacy continues to inspire individuals around the world to work towards creating positive change in their communities.

Quotes by Agustinus Wibowo

Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jarang terjamah, melukis nuansa lewat tulisan.
"
Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jarang terjamah, melukis nuansa lewat tulisan.
Mimpi orang Afghanistan adalah Tajikistan, karena Tajikistan berlimpah listrik dan perempuan. Mimpi orang Tajikistan adalah Rusia, karena di sana banyak lapangan kerja dan uang. Mimpi orang Rusia adalah Amerika Serikat, karena di sana penuh gemerlap modernitas dan kebebasan. Lalu, apa mimpi orang Amerika? Mereka yang berada di puncak dari segala mimpi, ternyata masih punya mimpi yang lebih tinggi lagi – pergi ke luar angkasa...
"
Mimpi orang Afghanistan adalah Tajikistan, karena Tajikistan berlimpah listrik dan perempuan. Mimpi orang Tajikistan adalah Rusia, karena di sana banyak lapangan kerja dan uang. Mimpi orang Rusia adalah Amerika Serikat, karena di sana penuh gemerlap modernitas dan kebebasan. Lalu, apa mimpi orang Amerika? Mereka yang berada di puncak dari segala mimpi, ternyata masih punya mimpi yang lebih tinggi lagi – pergi ke luar angkasa...
Melalui garis batas, kita meraba dunia luar. Melalui garis batas, kita berlindung dari dunia luar.
"
Melalui garis batas, kita meraba dunia luar. Melalui garis batas, kita berlindung dari dunia luar.
Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.
"
Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.
Garis batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup diri.
"
Garis batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup diri.
Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.
"
Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.
Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya.
"
Ketakutan selalu menemani hidup. Kau dan aku takkan pernah bisa lari darinya.
Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini?
"
Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini?
Organisasi-organisasi raksasa dengan momok birokrasi yang rumit terus berbicara tentang konsep-konsep dan solusi dalam "bahasa langit", sementara kaki mereka tak menjejak pada kehidupan akar rumput rakyat Afghan yang sebenarnya. Anak-anak jalanan masih saja bertebaran di mana-mana. Perempuan masih bersembunyi. Jalan masih berdebu. Rumah-rumah belum tersentuh listrik dan air.
"
Organisasi-organisasi raksasa dengan momok birokrasi yang rumit terus berbicara tentang konsep-konsep dan solusi dalam "bahasa langit", sementara kaki mereka tak menjejak pada kehidupan akar rumput rakyat Afghan yang sebenarnya. Anak-anak jalanan masih saja bertebaran di mana-mana. Perempuan masih bersembunyi. Jalan masih berdebu. Rumah-rumah belum tersentuh listrik dan air.
Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasat mata? Siapa yang menentukan suku-suku, bangsa-bangsa, ras dan etnis? Siapa pula yang tega mengobarkan perang dan pertumpahan darah, demi garis-garis batas itu?
"
Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasat mata? Siapa yang menentukan suku-suku, bangsa-bangsa, ras dan etnis? Siapa pula yang tega mengobarkan perang dan pertumpahan darah, demi garis-garis batas itu?
Showing 1 to 10 of 11 results