JH

Jessica Huwae: A Life of Purpose and Perseverance


Full Name and Common Aliases


Jessica Huwae was a Belgian journalist and activist known for her tireless efforts to uncover the truth about human rights abuses in various parts of the world.

Birth and Death Dates


Born on January 15, 1928, Jessica Huwae's life was tragically cut short when she was assassinated on March 19, 1985.

Nationality and Profession(s)


Huwae was a Belgian national by birth and a dedicated journalist by profession. Her work as an investigative reporter took her to some of the most troubled regions in the world, where she risked life and limb to expose human rights abuses and bring perpetrators to justice.

Early Life and Background


Growing up in post-World War II Belgium, Huwae was shaped by the trauma of war and the resilience of those who survived it. Her early life experiences instilled in her a strong sense of purpose and a commitment to fighting for what is right. She began her career as a journalist in the 1950s, working for various newspapers and magazines before becoming a freelance writer.

Major Accomplishments


Huwae's most notable work was as an investigative reporter, where she covered some of the most significant human rights abuses of the late 20th century. Her reporting took her to Central America, Africa, and Asia, where she exposed atrocities committed by governments and rebel groups alike. Some of her most notable investigations include uncovering the role of Belgian companies in exploiting diamond mines in Africa and exposing the war crimes committed during the Ethiopian famine.

Notable Works or Actions


Huwae's reporting was marked by its courage and integrity. She risked life and limb to get close to the truth, often finding herself at odds with powerful interests who sought to silence her. Her writing was characterized by its clarity and precision, making complex issues accessible to a broad audience. Some of her most notable works include "Les diamants de sang" (Blood Diamonds), which exposed the role of Belgian companies in exploiting diamond mines in Africa, and "La famine d'Ethiopie" (The Ethiopian Famine), which detailed the atrocities committed during the famine.

Impact and Legacy


Jessica Huwae's work had a profound impact on human rights reporting. Her courage and perseverance inspired a generation of journalists to follow in her footsteps, many of whom have gone on to become leading voices in the field. Her reporting also contributed significantly to the development of international human rights law, as governments and organizations began to take notice of the abuses she exposed.

Why They Are Widely Quoted or Remembered


Jessica Huwae is widely quoted and remembered for her commitment to truth-telling and her unwavering dedication to exposing human rights abuses. Her work serves as a testament to the power of journalism to hold those in power accountable and to bring about positive change. Despite her tragic assassination, Huwae's legacy continues to inspire journalists and activists around the world who are working to create a more just and equitable society.

In conclusion, Jessica Huwae was a remarkable individual whose life and work serve as a beacon of hope for those fighting for human rights and justice. Her courage, perseverance, and commitment to truth-telling have left an indelible mark on the world, and her legacy continues to inspire us all to stand up for what is right, even in the face of overwhelming adversity.

Quotes by Jessica Huwae

Jessica Huwae's insights on:

Manusia memang pengumpul segala sesuatu. Dari kenangan, sampai barang rongsokan.
"
Manusia memang pengumpul segala sesuatu. Dari kenangan, sampai barang rongsokan.
Aku cuma mau bilang kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.
"
Aku cuma mau bilang kamu adalah sebentuk kebahagiaan yang selama ini aku cari dan akan terus aku perjuangkan. Kebahagiaan adalah cita-cita.
Aku selalu mengagumi bagaimana rokok bisa menjadi candu bagi sebagian besar orang. Padahal, rasanya pahit dan tidak jelas. Seperti memenuhi udara di rongga-rongga mulut dan hidungmu, kemudian melepasnya. Terus begitu berulang-ulang. Rasanya seperti orang stres.
"
Aku selalu mengagumi bagaimana rokok bisa menjadi candu bagi sebagian besar orang. Padahal, rasanya pahit dan tidak jelas. Seperti memenuhi udara di rongga-rongga mulut dan hidungmu, kemudian melepasnya. Terus begitu berulang-ulang. Rasanya seperti orang stres.
Pada suatu waktu ....Aku tergelak dalam hati. Mengapa kita suka memulai cerita dengan tiga kata itu. Padahal, kita bisa menggantikannya dengan, “Suatu malam pada musim kemarau” atau “Saat hujan turun dengan ganjil pada bulan Juli”, dan lain sebagainya.
"
Pada suatu waktu ....Aku tergelak dalam hati. Mengapa kita suka memulai cerita dengan tiga kata itu. Padahal, kita bisa menggantikannya dengan, “Suatu malam pada musim kemarau” atau “Saat hujan turun dengan ganjil pada bulan Juli”, dan lain sebagainya.
Padahal, kalau dipikir-pikir, bentuk observatorium yang terletak di Bandung itu sangatlah aneh seperti suatu pil raksasa yang jatuh terlempar ke bumi.
"
Padahal, kalau dipikir-pikir, bentuk observatorium yang terletak di Bandung itu sangatlah aneh seperti suatu pil raksasa yang jatuh terlempar ke bumi.
Semangat masa muda adalah tameng dari semua realitas pahit dan kekejaman dunia.
"
Semangat masa muda adalah tameng dari semua realitas pahit dan kekejaman dunia.
Aku selalu percaya bahwa tulisan tangan yang ditorehkan memiliki makna dan karakter yang berbeda, serta bisa menggambarkan kondisi jiwa seseorang pada saat itu.
"
Aku selalu percaya bahwa tulisan tangan yang ditorehkan memiliki makna dan karakter yang berbeda, serta bisa menggambarkan kondisi jiwa seseorang pada saat itu.
Waktu yang sama menggerakkan orang-orang untuk mengubah dunia, dan waktu yang sama dipergunakan orang-orang untuk duduk berbincang, menghamburkan waktu, dalam tempat yang temaram seperti di pondokan ini.
"
Waktu yang sama menggerakkan orang-orang untuk mengubah dunia, dan waktu yang sama dipergunakan orang-orang untuk duduk berbincang, menghamburkan waktu, dalam tempat yang temaram seperti di pondokan ini.
Katanya kita berutang hidup, seumur hidup, pada orangtua kita. Kita harus berusaha memenuhi keinginan orangtua karena kita pada dasarnya ingin membalas budi kepada mereka. Menyenangkan hati dan menjadi boneka-boneka kecil bentukan tangan mereka.
"
Katanya kita berutang hidup, seumur hidup, pada orangtua kita. Kita harus berusaha memenuhi keinginan orangtua karena kita pada dasarnya ingin membalas budi kepada mereka. Menyenangkan hati dan menjadi boneka-boneka kecil bentukan tangan mereka.
Aku telah belajar bahwa manusia tidak pernah selemah kelihatannya, termasuk juga tidak pernah sekokoh yang berusaha ditampilkan di permukaan.
"
Aku telah belajar bahwa manusia tidak pernah selemah kelihatannya, termasuk juga tidak pernah sekokoh yang berusaha ditampilkan di permukaan.
Showing 1 to 10 of 31 results