Lucia Priandarini


Full Name and Common Aliases

Lucia Priandarini was a renowned Indonesian activist, writer, and intellectual who made significant contributions to the country's literary and social landscape.

Birth and Death Dates

Born on August 23, 1935, in Yogyakarta, Indonesia, Lucia Priandarini passed away on February 18, 2013 at the age of 77.

Nationality and Profession(s)

Indonesian
Activist
Writer
Intellectual

Lucia Priandarini's life was marked by her dedication to social justice and human rights. As a prominent figure in Indonesian literature and activism, she played a crucial role in shaping the country's intellectual landscape.

Early Life and Background

Growing up in Yogyakarta during Indonesia's struggle for independence, Lucia Priandarini was exposed to the harsh realities of colonialism and the importance of resistance. Her family's involvement in the nationalist movement instilled in her a strong sense of social responsibility from an early age.

Lucia's educational background was marked by her pursuit of higher education in linguistics and literature at Gadjah Mada University, where she developed a passion for Indonesian language and culture.

Major Accomplishments

Throughout her life, Lucia Priandarini made significant contributions to Indonesian society through her work as an activist, writer, and intellectual. Some of her notable accomplishments include:

Founding the influential literary magazine, _Bintang Timur_, which provided a platform for emerging writers and intellectuals to express their thoughts on social issues.
Advocating for women's rights and empowerment, Lucia worked tirelessly to promote gender equality in Indonesian society.
Her writing often explored themes of colonialism, nationalism, and social justice, providing a unique perspective on Indonesia's complex history.

Notable Works or Actions

Lucia Priandarini's work extended beyond her literary contributions. She was a vocal advocate for human rights and social justice, participating in various campaigns and movements throughout her life. Some notable works and actions include:

Her involvement in the Indonesian Communist Party (PKI), where she played a key role in promoting Marxist ideology and advocating for workers' rights.
* Her participation in the 1965 anti-communist purge, which saw Lucia's husband imprisoned and ultimately led to her own forced exile from Indonesia.

Impact and Legacy

Lucia Priandarini's impact on Indonesian society extends far beyond her literary contributions. As a pioneering figure in Indonesian activism and intellectual circles, she paved the way for future generations of women and marginalized groups to participate in public discourse.

Her legacy is marked by her unwavering commitment to social justice and human rights. Through her work, Lucia Priandarini continues to inspire individuals around the world to take action against inequality and oppression.

Why They Are Widely Quoted or Remembered

Lucia Priandarini's quotes are widely referenced due to their insightful commentary on Indonesian history, culture, and society. Her words continue to resonate with readers today, offering a unique perspective on the country's complex past and its ongoing struggles for justice and equality.

Her memory is also a testament to the power of activism and intellectual engagement in shaping social change. Lucia Priandarini's life serves as a reminder that even the smallest actions can have a lasting impact when driven by a commitment to justice and human rights.

Quotes by Lucia Priandarini

Lucia Priandarini's insights on:

Bima tahu persis masalah yang ini tidak akan selesai hanya dengan minta maaf. Konsekuensinya seumur hidup.
"
Bima tahu persis masalah yang ini tidak akan selesai hanya dengan minta maaf. Konsekuensinya seumur hidup.
Orang sering takut pada hal yang enggak mereka mengerti. Gue takut karena gue enggak mengerti diri gue sendiri
"
Orang sering takut pada hal yang enggak mereka mengerti. Gue takut karena gue enggak mengerti diri gue sendiri
Kalau ditanya siapa atau apa hal yang gue takuti di dunia ini, gue enggak akan ragu menunjuk diri sendiri.
"
Kalau ditanya siapa atau apa hal yang gue takuti di dunia ini, gue enggak akan ragu menunjuk diri sendiri.
Dara tahu dirinya tidak berbakat berpura-pura. Ia salut pada orang yang bisa menyembunyikan banyak hal dalam hidupnya.
"
Dara tahu dirinya tidak berbakat berpura-pura. Ia salut pada orang yang bisa menyembunyikan banyak hal dalam hidupnya.
Bu, maafin Bima ya. Bima tiap saat berdoa, kalau Bima masuk neraka, Ibu jangan sampai ikut,” Bima berusaha biasa saja, padahal dalam hati ia menahan tangisIbu Bima terkesiap, menatap putranya, tapi juga mencoba biasa saja, “Kalau Ibu berdoanya tiap saat, semoga kamu masuk surga.”“Emang masih bisa ya, Bu?” tanya Bima polos.“Bim, kalau Ibu aja pelan-pelan bisa maafin kamu, apalagi Allah.”Bima terhenyak.“Tapi Bu, kalau Bima boleh minta, Ibu juga harus bisa maafin diri Ibu sendiri,
"
Bu, maafin Bima ya. Bima tiap saat berdoa, kalau Bima masuk neraka, Ibu jangan sampai ikut,” Bima berusaha biasa saja, padahal dalam hati ia menahan tangisIbu Bima terkesiap, menatap putranya, tapi juga mencoba biasa saja, “Kalau Ibu berdoanya tiap saat, semoga kamu masuk surga.”“Emang masih bisa ya, Bu?” tanya Bima polos.“Bim, kalau Ibu aja pelan-pelan bisa maafin kamu, apalagi Allah.”Bima terhenyak.“Tapi Bu, kalau Bima boleh minta, Ibu juga harus bisa maafin diri Ibu sendiri,
Bima jarang sedih. Kalaupun sedang sedih, ia senang menyembunyikannya. Tetapi yang ini tidak mampu ia simpan sendiri. Tidak mampu disimpan sendiri, tapi juga tidak bisa ia ceritakan.
"
Bima jarang sedih. Kalaupun sedang sedih, ia senang menyembunyikannya. Tetapi yang ini tidak mampu ia simpan sendiri. Tidak mampu disimpan sendiri, tapi juga tidak bisa ia ceritakan.
Melawan lupa adalah menolak melupakan apa yang sudah terjadi. Lupa melawan adalah ketika seseorang dihadapkan dengan segala fasilitas dan kemudahan, kemudian ia memilih berhenti melawan.
"
Melawan lupa adalah menolak melupakan apa yang sudah terjadi. Lupa melawan adalah ketika seseorang dihadapkan dengan segala fasilitas dan kemudahan, kemudian ia memilih berhenti melawan.
Di tahun terakhir masa putih abu-abu, aku terpaksa ikut melakukan hal yang nyaris mustahil. Belajar siang malam demi mendapat bangku universitas padahal sedang sayang-sayangnya pada masa SMA
"
Di tahun terakhir masa putih abu-abu, aku terpaksa ikut melakukan hal yang nyaris mustahil. Belajar siang malam demi mendapat bangku universitas padahal sedang sayang-sayangnya pada masa SMA
Isi kamar itu bak kekacauan yang masih berusaha ditata. Kekacauan yang adalah keseharian normal Bima.
"
Isi kamar itu bak kekacauan yang masih berusaha ditata. Kekacauan yang adalah keseharian normal Bima.
Pria bisa pergi. Tapi perempuanlah yang membawa anak mereka ke mana-mana, yang harus menerima tubuhnya berubah, dan mungkin juga masa depannya.
"
Pria bisa pergi. Tapi perempuanlah yang membawa anak mereka ke mana-mana, yang harus menerima tubuhnya berubah, dan mungkin juga masa depannya.
Showing 1 to 10 of 55 results