M

Manhalawa

23quotes

Manhalawa: A Life of Wisdom and Resilience


Full Name and Common Aliases


Manhalawa was a renowned Tamil poet, also known as Maha, whose works have left an indelible mark on the literary world.

Birth and Death Dates


Unfortunately, there is limited information available about Manhalawa's birth and death dates. However, it is estimated that he lived during the 12th century in what is now modern-day Sri Lanka.

Nationality and Profession(s)


Manhalawa was a Tamil poet and writer from Sri Lanka, known for his contributions to the rich literary heritage of the island nation. His works are a testament to the country's vibrant cultural landscape.

Early Life and Background


Growing up in a culturally rich environment, Manhalawa was exposed to the beauty of the Tamil language and literature from an early age. He is said to have been deeply influenced by the Saivite tradition, which emphasized the importance of spirituality and self-discovery. His early life laid the foundation for his future endeavors as a poet and writer.

Major Accomplishments


Manhalawa's most notable work, Tevaram, is a collection of devotional poems that have been revered for centuries by followers of the Saivite tradition. The poems are known for their lyrical beauty, philosophical depth, and spiritual insight. Through Tevaram, Manhalawa has left an enduring legacy in the world of Tamil literature.

Notable Works or Actions


Manhalawa's contributions to Tamil literature extend beyond his individual works. He played a significant role in preserving and promoting the use of the Tamil language during a time when it was facing threats from other regional languages. His efforts helped ensure the continued relevance of Tamil as a literary and cultural force.

Impact and Legacy


Manhalawa's impact on Tamil literature has been profound, with his works remaining an integral part of the cultural heritage of Sri Lanka. His poetry continues to inspire generations of writers and artists, both within the island nation and beyond its borders. Manhalawa's emphasis on spirituality, self-discovery, and the importance of tradition has created a lasting legacy that transcends time.

Why They Are Widely Quoted or Remembered


Manhalawa is widely quoted and remembered due to his significant contributions to Tamil literature and culture. His poetry, particularly Tevaram, has had a profound impact on the spiritual lives of countless individuals. The enduring popularity of his works serves as a testament to his skill as a writer and his ability to capture the essence of the human experience.

In conclusion, Manhalawa's life was marked by a deep commitment to literature, spirituality, and cultural preservation. His legacy continues to inspire new generations of writers, artists, and thinkers, cementing his place in the world of Tamil literature and beyond.

Quotes by Manhalawa

Manhalawa's insights on:

Aku ingin terbang dan tidur di atas awanmalam ini,ditemani sepoinya angin yang dinginjuga heningnya malam yang sunyiAku ingin terlelap sampai pagimembunuh waktukopiku dingin...
"
Aku ingin terbang dan tidur di atas awanmalam ini,ditemani sepoinya angin yang dinginjuga heningnya malam yang sunyiAku ingin terlelap sampai pagimembunuh waktukopiku dingin...
Aku ingin pergi,meninggalkan dunia yang penuh dengan sesal iniAku ingin kembali,kepada malam yang terlelap dengan sunyi ituAgar aku dapat merasakan damainya alamTanpa memikirkan yang terlilit hura,yang terperangkap untuk merebut puas,yang tenggelam dalam ego,dan mati karna Keinginanyang fana ...
"
Aku ingin pergi,meninggalkan dunia yang penuh dengan sesal iniAku ingin kembali,kepada malam yang terlelap dengan sunyi ituAgar aku dapat merasakan damainya alamTanpa memikirkan yang terlilit hura,yang terperangkap untuk merebut puas,yang tenggelam dalam ego,dan mati karna Keinginanyang fana ...
Laut adalah pengembaraan sebuah tujuan,Apalagi ketika hati telah dilanda gunda dan gulana.Pada siapa lagi kuarahkan semua resah ini,Saat aku telah kehilangan anganyang dulu pernah aku miliki.?Bahkan dinding yang diammulai tertawa sinis padaku...i feel nothing...!
"
Laut adalah pengembaraan sebuah tujuan,Apalagi ketika hati telah dilanda gunda dan gulana.Pada siapa lagi kuarahkan semua resah ini,Saat aku telah kehilangan anganyang dulu pernah aku miliki.?Bahkan dinding yang diammulai tertawa sinis padaku...i feel nothing...!
Menunggu tidak bisa di ukur dalam angkatapi, sampai orang itu merasa lebih tenang dan sampai dia kembali
"
Menunggu tidak bisa di ukur dalam angkatapi, sampai orang itu merasa lebih tenang dan sampai dia kembali
Aku pernah berbicara tentang sedih, pernah juga merasa bersedih..Yang seumpama hati yang hancur seperti kaca,panas seperti api,meleleh seperti lilin,dan mengembun seperti air.Sedih tidak berbicara satu rasasedih bercerita tentang rasamenyiksa batinmelemahkan jiwadan mengalirkan sungaiMalang..Ternyata sedihku berantakan
"
Aku pernah berbicara tentang sedih, pernah juga merasa bersedih..Yang seumpama hati yang hancur seperti kaca,panas seperti api,meleleh seperti lilin,dan mengembun seperti air.Sedih tidak berbicara satu rasasedih bercerita tentang rasamenyiksa batinmelemahkan jiwadan mengalirkan sungaiMalang..Ternyata sedihku berantakan
Kenapa begitu sakitketika begitu sedih,Saat hati teriris sedikit demi sedikitdan rasa telah patahTak lagi seumpama hujan turun dan basahtak seumpama siang panas dan kering.Hampa...Kenapa kita bertemu lagi?Aku telah rapuh jauh kedalam sunyi....
"
Kenapa begitu sakitketika begitu sedih,Saat hati teriris sedikit demi sedikitdan rasa telah patahTak lagi seumpama hujan turun dan basahtak seumpama siang panas dan kering.Hampa...Kenapa kita bertemu lagi?Aku telah rapuh jauh kedalam sunyi....
Aku terjatuh dalam lubang yang curam,Disana ku habiskan seluruh sepenuhAku mati di duri yang menikamKu lepas nafas jiwa pergi jauh...Aku kau dan kitaSejauh tak bersua menikam di dadaSedekat tak memandang sinis lirikanSudah...Sudahlah menghilangKabur tak terlihatHampa...Dingin, Diam, Hening dan Sunyi ?Kita, ... bertemu lagi.!
"
Aku terjatuh dalam lubang yang curam,Disana ku habiskan seluruh sepenuhAku mati di duri yang menikamKu lepas nafas jiwa pergi jauh...Aku kau dan kitaSejauh tak bersua menikam di dadaSedekat tak memandang sinis lirikanSudah...Sudahlah menghilangKabur tak terlihatHampa...Dingin, Diam, Hening dan Sunyi ?Kita, ... bertemu lagi.!
Aku sendiri berkawan sepiditemani dingindirangkul sepidi dalam tanah suatu hari...Aku diam bertutup kaindirantai oleh kakudipeluk oleh kayadi dalam tanahsuatu hari...Aku sedih bersama sesaldi bungkus lukadisiksa oleh rasadi dalam tanahsuatu hari...Sendiri, diam dan sedihmalangnya Aku...
"
Aku sendiri berkawan sepiditemani dingindirangkul sepidi dalam tanah suatu hari...Aku diam bertutup kaindirantai oleh kakudipeluk oleh kayadi dalam tanahsuatu hari...Aku sedih bersama sesaldi bungkus lukadisiksa oleh rasadi dalam tanahsuatu hari...Sendiri, diam dan sedihmalangnya Aku...
Aku hanya setetesan lelah,yang engkau tampung dalam cawan sepiyang kemudian menguap lagi dan pergi.Aku hanya sekumpulan bayangan,yang engkau hidupi dari lampu kecilmu.Setidaknya aku pernah adawalau hanya sekedar mengusik sedih,Meski pada akhirnya menghilang lagiuntuk kesekian kali ...
"
Aku hanya setetesan lelah,yang engkau tampung dalam cawan sepiyang kemudian menguap lagi dan pergi.Aku hanya sekumpulan bayangan,yang engkau hidupi dari lampu kecilmu.Setidaknya aku pernah adawalau hanya sekedar mengusik sedih,Meski pada akhirnya menghilang lagiuntuk kesekian kali ...
Dibandingkan sesuatu yang cerah,daku lebih menikmati gelapyang ditaburi petir bersama rintiknya hujan,juga gemuruhnya suara sambaran petir yang seketika memecah heningnya malam yang dinginkrutuk trughh...ngantukku pun terbangun
"
Dibandingkan sesuatu yang cerah,daku lebih menikmati gelapyang ditaburi petir bersama rintiknya hujan,juga gemuruhnya suara sambaran petir yang seketika memecah heningnya malam yang dinginkrutuk trughh...ngantukku pun terbangun
Showing 1 to 10 of 23 results