Anand Krishna
Full Name and Common Aliases
Anand Krishna
Also known as: Sri Anand Krishna, Anand K.
Birth and Death Dates
December 24, 1955 - present
Nationality and Profession(s)
Indian spiritual leader, author, poet, and philosopher. He is also a former diplomat and has served as the Indian ambassador to several countries.
Early Life and Background
Anand Krishna was born on December 24, 1955, in Indonesia to an Indonesian mother and an Indian father. His family moved to India when he was young, and he spent most of his childhood in Kolkata (formerly Calcutta). He was raised in a devoutly Hindu family and was introduced to spirituality from an early age.
Krishna pursued higher education at the University of Cambridge, where he earned a Master's degree in International Relations. His academic background and diplomatic career have had a significant impact on his spiritual journey.
Major Accomplishments
Throughout his life, Anand Krishna has achieved numerous milestones that contribute to his reputation as a spiritual leader and visionary:
Diplomatic Career: He served as the Indian Ambassador to several countries, including Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapore, and Papua New Guinea.
Spiritual Leadership: Krishna is the founder of the Anand Ashram and the Sri Aurobindo Center in Bali, Indonesia. His ashram has become a hub for spiritual seekers from around the world.
Literary Contributions: He has written numerous books on spirituality, philosophy, and poetry, which have been widely acclaimed and translated into several languages.Notable Works or Actions
Some of his notable works include:
"The Cosmic Game": A book that explores the mysteries of the universe and our place within it.
* "Sri Aurobindo's Integral Yoga": A comprehensive guide to the spiritual path outlined by Sri Aurobindo, a renowned Indian philosopher and yogi.
Impact and Legacy
Anand Krishna's impact on modern spirituality is undeniable. His teachings emphasize the importance of self-realization, love, and service to humanity. He has inspired countless individuals to embark on their own spiritual journeys, fostering a sense of global unity and cooperation.
Krishna's legacy extends beyond his written works and ashram. He has played a significant role in promoting cultural exchange between India and other countries, particularly Indonesia. His diplomatic career and literary contributions have helped bridge the gap between East and West, making him an ambassador of Indian culture and spirituality worldwide.
Why They Are Widely Quoted or Remembered
Anand Krishna's quotes and teachings are widely quoted due to their timeless wisdom, universal appeal, and relevance to modern society. His messages emphasize the importance of living in harmony with nature, cultivating love and compassion for all beings, and striving for self-realization. As a result, he has become one of the most respected spiritual leaders of our time.
His quotes often serve as reminders of the interconnectedness of all things and the need to live in balance with the world around us. They inspire individuals to adopt a more holistic approach to life, focusing on personal growth, self-awareness, and service to humanity.
Quotes by Anand Krishna
Anand Krishna's insights on:

Dalam dua ribu tahun terakhir sejak kelahiran agama-agama besar di Timur itu, Bung, dunia ini telah berperang tiga ribu kali atas nama agama dan tuhan.

Rakyat melahirkan para pemimpin.Bukan sebaliknya.Seorang pemimpin terlebih dahulu adalah anak bangsa. Bagian dari rakyat jelata. Bila rakyat tertindas, maka kemungkinan besar pemimpin yang lahir pun menjadi penindas. Ia sudah terbiasa ditindas, maka setelah meraih kekuasaan, terlebih dahulu ia akan membalas dendam.

Sukarno seorang diri, Gandhi seorang diri, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddharta juga seorang diri. Namun, merekalah yang mengubah dan membuat sejarah.

Penindasan terjadi karena kelompok yang ditindas pasrah, rela ... mereka tidak bersuara. Mereka tidak berupaya untuk memperbaiki nasib mereka. Penguasa melakukan tirani karena rakyat bungkam, minder, lemah.

Demi kezaliman yang terjadi di Palestina, di Kashmir, di Afganistan, di Irak atau di manapun juga ... kenapa mereka rela menyengsarakan saudara-saudaranya yang sebangsa dan setanahair?Berarti ada yang salah dengan rasa kebangsaan mereka. Mereka merasa lebih dekat dengan warga asing, dengan negara asing, ketimbang dengan saudara-saudaranya sendiri, dengan bangsa dan negaranya sendiri. Bagi mereka, padang pasir dan pohon kurma menjadi lebih penting ketimbang bumi yang subur ini.

Setiap anak bangsa memiliki arti yang sama bagi bangsa dan negara. Di dalam kebangsaan sesungguhnya tak perlu ada yang namanya “mayoritas” dan “minoritas”. Mayoritas tidak perlu arogan. Minoritas tidak perlu minder. Kita semua sama.

Timur membutuhkan semangat dan dinamisme Barat.Barat membutuhkan ketenangan dan kedamaian Timur.Melaju dengan kecepatan tinggi tanpa rem, kecelakaan menunggu Barat. Berdiri malas di tempat tanpa semangat, Timur akan mati konyol. Pertemuan antara Barat dan Timur bermanfaat bagi keduanya.

Mereka lahir, hidup, dan mati dalam ketidakpuasan. Apa yang mereka bayangkan dan inginkan tidak pernah menjadi kenyataan. Mereka hidup dalam khayalan.

Pulau-pulau kecil yang terlihat olehmu, dipersatukan semuanya oleh laut. Setiap pulau beda, namun keberadaan mereka karena laut yang satu dan sama.

Perbuatanku boleh terkendali tapi bila niatku jahat ... aku tetaplah tidak berakhlak.Bila aku berbuat jahat, negara menghukumku.Untuk itu, undang-undang dan peraturannya sudah jelas.Namun bila aku berniat jahat, siapa yang dapat menerkanya?Aku sendiri bertanggungjawab terhadap niat jahatku.